Uncategorized

DEWA PENJAGA PERBATASAN LANGIT DAN BUMI. (TUO TA TIAN WANG)

Posted on

 

DEWA PENJAGA PERBATASAN LANGIT DAN BUMI. (TUO TA TIAN WANG)

Tuo Ta Tian Wang (Tok Tha Thian Ong – Hokkian) atau secara umum dipanggil Li Tian Wang (Lie Thian Ong — Hokkian) adalah seorang panglima perang termasyur yang sangat berjasa dalam membantu Li Shi Min (Lie Si Bin – Hokkian) mendirikan dinasti Tang.

Nama aslinya adalah Li Jing (Li Ceng — Hokkian). Setelah berhasil, Li Jing ternyata tidak menyukai kemewahan dunia, maka ia meninggalkan jabatannya dan kemudian bertapa di atas gunung. Konon, kemudian Yu Huang mengangkatnya menjadi komandan Fasukan Malaikat yang bertugas dan menjaga perbatasan antara Mayapada dengan Kahyangan, bertanggung jawab atas keamanan daerah kekuasaannya, menangkap para iblis dan siluman yang mencoba menerobos masuk ke tempat suci, dan menangkap para Malaikat yang memberontak. Sebab itulah maka ia juga dinamakan Xiang Mo Da Yuan Shuai (Hang Mo Tay Goan Swe — Hokkian). Hari She-jiet Li Jing jatuh pada tanggal 21 bulan 4 Imlik. Li Tian Wang dilukiskan sebagai seorang panglima perang yang gagah dengan tangan kiri mengangkat sebuah pagoda kecil dan tangan kanan menggenggam gada mustika. Perwujudan seperti ini jelas membawa pengaruh dari Buddhisme. Seperti diketahui, dalam kitab suci Buddhisme. Seperti diketahui, dalam kitab suci Buddhisme ada yang disebut Si Da Tian Wang (Su Tay Thian Ong – Hokkian), salah satu diantaranya yang membawa pagoda dan pengawal pintu Langit sebelah Utara. Setelah masuk ke Tiongkok, figur Buddhisme ini lalu diubah menjadi Tuo Ta Tian Wang versi Tionghoa, yang dikaitkan dengan Li Jing.

Pada jaman dinasti Tang dan Song, dimana Buddhisme mencapai jaman keemasannya, keluarga kaisar mendorong pemujaan terhadap Li Tian Wang sehingga pada tiap-tiap kota besar didirikan kelenteng Tian Wang Ci (Thian Ong Su – Hokkian) sebagai lambang kewibawaan kerajaan. Di Taiwan pemujaan terhadap Li Tian Wang hanya ada di kelenteng Wen Shu Tian di Anping.

Sebuah versi lain mengatakan bahwa Li Jing adalah seorang panglima perang yang bertugas di kota Chen-tang-guan, pada masa pemerintahan kaisar Yin yang terakhir, yang bernama Zhou Wang. Ia adalah

ayah Ne Zha (Lo Tjia — Hokkian). Pagoda pusaka yang dibawanya adalah pemberian Dewa Wen Zhu Tian Zun, untuk menaklukkan putranya sendiri yang bengal. Pagoda ini akhirnya menjadi ciri khas yang melekat erat dengan julukannya yaitu Tuo Ta Tian Wang (Raja Langit Penyangga Pagoda)! Dia akhirnya membantu Jiang Zi Ya (Kiang Tju Gee – Hokkian) menumbangkan dinasti Yin dan mendirikan dinasti Zhou. Setelah naik ke langit, Yu Huang mengangkatnya sebagai jendral Kahyangan yang memimpin 36 perwira langit dan penjaga pintu sorga. Kisah ini diambil dari novel terkenal Feng Shen

 

http://tradisitridharma.blogspot.sg/2014/12/tuo-ta-tian-wang.html

Si Da Tian Wang – Si Twa Thien Ong – Empat Raja Langit

Posted on Updated on

 

 

四大天王 Si Da Tian Wang {Hok Kian = Si Twa Thien Ong} adalah Empat Raja Langit, yang terdiri dari :

Nan Fang Zeng Chang Tian Wang 南方增長天王

Xi Fang Guang Mu Tian Wang 西方廣目天王

Bei Fang Duo Wen Tian Wang 北方多聞天王

Dong Fang Che Guo Tian Wang 東方持國天王

Si Twa Thien Ong ini sering disebut juga sebagai 四大金剛 Si Da Jin Gang {Si Twa Kim Kong} yang berarti Empat Prajurit Pengawal Buddha (Sansekerta = Catur Vajra). Si Twa Thien Ong adalah para hulu balang yang menjaga langit. Mereka adalah penguasa benua-benua yang terletak di ke empat mata angin dari Gunung Suci Semeru yang dianggap oleh para umat Buddha sebagai pusat dunia. Mereka juga dianggap bisa melimpahkan berkah kepada siapa saja yang menghormati Tri Ratna Buddha (Tiga Pusaka Buddhisme) yaitu Buddha, Dharma & Sangha.

Menurut Kitab Suci Buddha, mereka berempat adalah pengawal Indra, yang bertugas di luar kahyangan, dan mempunyai wilayah kekuasaan di empat penjuru alam. Nan Fang Zeng Chang Tian Wang (Virudhaka) yang berwajah biru berkuasa di wilayah Selatan. Xi Fang Guang Mu Tian Wang (Virupaksa) yang berwajah merah berkuasa di wilayah Barat. Bei Fang Duo Wen Tian Wang (Dhanada) yang berwajah kuning berkuasa di wilayah Utara. Dong Fang Che Guo Tian Wang (Dhatarastra) yang berwajah putih berkuasa di wilayah Timur.

 

Setelah Buddhisme memasuki Daratan Tiongkok, muncullah versi Tionghoa untuk Si Twa Kim Kong ini. Mereka sering kali muncul dalam bentuk arca yang berukuran besar dan menjaga sebelah kiri & kanan pintu besar kelenteng-kelenteng Buddhis. Hampir semua kelenteng Buddhis, seperti Shao Lin Si (kuil Shao Lim) di pegunungan Song Shan, Bi Yun Si di lereng Utara bukit Xiang Shan dekat Bei Jing dan lain-lain, terdapat arca-arca mereka berempat dalam ukuran besar. Kira-kira 3 X ukuran manusia.

Dalam versi Tionghoa, Si Twa Thien Ong digambarkan sebagai 4 saudara yang bertubuh raksasa, memakai pakaian perang yang lengkap & memegang senjata yang berbeda-beda. Riwayat mereka terdapat dalam novel Feng Shen {Hong Sin}, dan disebut sebagai 4 Saudara dari keluarga Mo.

Saudara tertua adalah Mo Li Qing {Mo Le Khing}, bergelar Zeng Chang Tian Wang (Raja Langit Penguasa Pertumbuhan) dengan tinggi 8 meter, mempunyai warna kulit yang bersih tapi wajahnya bengis, berewokan. Ia membawa sebuah pedang & gelang kumala. Di mata pedang tersebut terdapat 4 buah huruf : 地, 水, 火, 風 Di, Shui, Huo, Feng (Tanah, Air, Api & Angin). Apabila pedang ini dihunus, muncullah angin hitam yang membawa puluhan ribu lembing yang dapat menembus tubuh musuh-musuhnya dan membuatnya menjadi debu. Angin hitam ini kemudian diikuti munculnya beribu-ribu ekor ular. Asap tebal menutupi bumi, membuat musuh-musuhnya menjadi buta & terbakar, dan tak seorangpun dapat meloloskan diri.

Mo Li Hong {Mo Le Hong} bergelar Guang Mu Tian Wang (Raja Langit Pelihat Jauh), mempunyai sebatang payung pusaka yang disebut Payung Pengacau Jagat. Payung ini terbuat dari rangkaian mutiara-mutiara yang mahal. Apabila payung ini dibuka, seluruh jagat akan terselimuti kegelapan. Bila payung itu diputar, akan terjadi topan di laut & gempa di daratan.

Mo Li Hai {Mo Le Hai} bergelar Duo Wen Tian Wang (Raja Langit Yang Amat Termashur), ia memakai senjata sejenis mandolin yang mempunyai 4 dawai. Apabila dawai itu dipetik, sebuah kekuatan yang dahsyat akan muncul dan mempengaruhi bumi, air, api & angin. Kalau sebuah lagu dimainkan, kubu-kubu musuh akan tenggelam dalam lautan api.

Mo Li Shou {Mo Le Siu} bergelar Che Guo Tian Wang (Raja Langit Pendukung Negara), mempunyai 2 batang cambuk sakti & sebuah kantong dari kulit macan tutul, yang selalu digantungkan di pinggangnya. Dalam kantong ini terdapat seekor mahluk sebesar tikus yang disebut Hua Hu Diao. Jika dikeluarkan dari kantongnya Hua Hu Diao ini dapat berubah menjadi mahluk raksasa yang mirip dengan gajah putih yang bersayap, & melahap siapa saja yang ditemuinya. Seringkali Mo Li Shou dilukiskan juga dengan membawa ular atau mahluk ajaib lain yang siap melaksanakan perintahnya, & gemar menelan manusia.

Pemujaan Si Twa Kim Kong di Tiongkok dipopulerkan oleh seorang Bikkhu dari Sri Lanka, Bu Kong {Hok Kian = Put Kong} yang datang ke Tiongkok pada tahun 720 M, pada masa Dinasti Tang [618 – 907 M]. Kemudian pada masa pemerintahan Kaisar Xuan Zong [712 – 756 M] arca-arcanya mulai bermunculan. Kaisar sendiri memerintahkan agar arca Si Twa Kim Kong ini ditempatkan di sudut Barat Laut ibukota untuk melindungi kota itu dari pengaruh buruk.

 

Di kalangan Taoist, ada juga istilah untuk 4 Jendral Langit yang bertugas mengawal pintu Surga & Kahyangan yang disebut Si Da Yuan Shuai {Si Twa Gwan Swee}. Mereka terdiri dari orang-orang yang bermarga Li, Ma, Zhao & Wen. Kelompok 4 Jendral versi Taoist ini adalah : Li Jing {Li Ceng} yang memiliki sebuah pagoda wasiat, sehingga disebut juga Li Tian Wang {Li Tian Ong}, yang bermarga Ma tidak jelas apa lengkapnya. Yang ketiga adalah Zhao Gong Ming {Tio Kong Beng} yang dikenal juga sebagai Xuan Dan Yuan Shuai (Dewa Kekayaan). Yang keempat adalah Wen Tai Shi / Wen Zhong {Bun Tiong}, Jendral terkenal dari Zhou Wang, pada masa Dinasti Shang [abad 16 – abad 11 SM].

Selain di Tiongkok, di Kuil Todainyi, Jepang, juga memiliki arca Si Twa Thien Ong dalam ukuran besar, yang tentu saja dalam Versi Jepang. Di Singapura, arca Si Twa Thien Ong dapat ditemui di Kelenteng-kelenteng Xuang Lin Si {Siang Lim See}, di Jalan Toa Payoh, yang merupakan suatu hasil seni yang bermutu tinggi.

 

http://tradisitridharma.blogspot.sg/2014/12/si-da-tian-wang-empat-raja-langit.html

Chai Shen Ye – Dewa Rejeki Tionghoa

Posted on Updated on

http://tradisitridharma.blogspot.sg/2014/12/chai-shen-ye-dewa-dewa-rejeki.html

 

Chai Shen Ye adalah perwujudan dari dewa-dewa rejeki (dewa harta) ada yang dari kalangan sipil adapula yang dari kalangan militer, bahkan ada yang dari kalangan budhis, dewa-dewa ini sangat banyak sering kali para umat salah mengartikan Chai Shen, sosok rupang Chai Shen memang di buat sedemikian rupa tetapi itu hanya sebagai perwujudan,

Yang termasuk dewa rejeki antar lainHan Tan Kong (Zhao Gong Ming), Kwan Kong, Fu Tek Chen Zhen, Bigan, dan masih banyak lainnya. jadi jangan dikira sosok Chai Shen adalah 1dewa saja, tetapi sebagai lambang perwujudan dari beberapa shen, pembagian pada umumnya
– Wu lu Chai Shen,
– Wen Wu Cai Shen.
– Dewa Harta empat penjuru tambahan,
– Dewa Harta dalam Budhis,
Cai Shen yang lain

  1. Wu Lu Chai Shen

 

Han Tan Kong memiliki 4 pengawal yang memiliki tugas sama yaitu membantu membagi harta kekayaan kepada umat

  •  Zhao Bao Tian Zun Xiao Sheng (Hanzi=招寳天尊蕭升; lit. Malaikat Pemanggil Mustika)
  • Xiao Sheng (Hanzi= 蕭升) adalah Dewa Harta Timur.

    • Na Zhen Tian Zun Zen Bao(Hanzi= 納珍天尊震寳; lit. Malaikat Pemungut Benda Berharga)

    Cao Bao (Hanzi= 震寳) adalah Dewa Harta Barat.

    • Hao Chai Shi Zhe Chen Jiu Gong (Hanzi=招財使者陳九公; lit. Duta Pemanggil Kekayaan)

    Chen Jiu Gong (Hanzi= 陳九公) adalah Dewa Harta Selatan.

    • Li Shi Xian Guan Yao Shao Si (Hanzi= 利市仙官姚少司; lit. Pejabat Dewa Keuntungan)

    Yao Shao Si (Hanzi= 姚少司) adalah Dewa Harta Utara.

2. Wen Wu Cai Shen (Hanzi=文武財神; Hokkien=Bun Bu Cai Sin) adalah Dewa Harta Sipil dan Militer. yang Cai Shen yang tergolong dalam kelompok ini adalah Xuan Tan Yuan Shuai Zhao Gong Ming , Guan Gong (Hanzi= 關公; Kwan Kong)[3], dan Bigan.

Zhao Gong Ming (Han Tan Kong)

Zhao Gong Ming (Hanzi= 赵公明; Hokkien=Tio Kong Beng) adalah salah satu Cai Shen yang ikonnya selalu tampil setiap perayaan Tahun Baru Imlek. Ia juga disebut “Dewa Kabar Baik” karena dapat memberikan kebahagiaan pada orang-orang. Zhao Gong Ming selalu membantu semua manusia berbudi luhur dan rajin yang sedang mengalami kesulitan sehingga menjadi berbahagia. Itulah sebabnya dirinya disebut Dewa Rejeki.[5]
Sebagai Dewa Harta Militer, Zhao Gong Ming sering ditampilkan sebagai seorang panglima perang berwajah bengis dengan pakaian perang lengkap, satu tangan menggenggam ruyung dan tangan yang lain membawa sebongkah emas, dan mengendarai seekor harimau hitam. Penggambaran ini berdasarkan buku Feng Shen Bang (Hanzi= 封神榜; lit. Daftar Penganugerahan Dewa-Dewa).[3] Ia merupakan pemimpin Wu Lu Cai Shen atau Dewa Harta Lima Jalan dan menjadi Dewa Harta Tengahdalam Dewa Harta Lima Penjuru. Perayaan hari raya untuknya adalah setiap tanggal 15 bulan 3 penanggalan Imlek.

Guan Gong

Guan Gong dahulu pernah menjadi gubernur wilayahYong An. Ia memimpin dengan adil dan bijaksana sehingga kota tersebut menjadi berkembang pesat dan makmur, semua rakyatnya tidak pernah berkekurangan. beliau juga dikenal sangat teliti dalam penghitungan keuangan kota, Ia dikenal murah hati; hadiah-hadiah seperti sutra dan emas yang ia terima tidak pernah ia gunakan, melainkan ia berikan untuk kesejahteraan rakyatnya.[5] Guan Yu dikenal dalam kisahnya menjaga kakak iparnya (istri Liu Bei) selama dalam perjalanan berdua, sehingga masyarakat China menghormati serta memuja kesetiaannya.
Para pedagang di China zaman dahulu memuja Guan Gong untuk melindungi mereka dari penyamun dan malapetaka lain selama dalam perjalanan bisnis. Akhirnya, ia dipuja bukan hanya sebagai dewa pelindung para pedagang dalam perjalanan, tetapi juga sebagai Cai Shen.[5] Karena watak Guan Gong yang lurus dan jujur, ia tidak akan memberkati bisnis atau pedagang yang curang. Sebagai Cai Shen dan pelindung, rupang yang digunakan pada altar adalah yang dalam posisi siaga memegang senjata guan dao.

Bigan

Bigan (Hanzi= 比干) merupakan tokoh historis yang hidup pada masa akhir Dinasti Shang. Ia adalah putra Wen Ding(文丁), keturunan Zi (子), dan merupakan keluarga kerajaan, yaitu paman dari raja terakhir Dinasti Shang yang bernama Zhou Xin (紂王). Selain dipuja oleh masyarakat China secara umum, ia terutama dipuja oleh keluarga Lin (林) di seluruh dunia.[4]
Ia merupakan satu-satunya penasihat raja Zhou dari Dinasti Shang yang masih setia menemani serta menasihati keponakannya yang korup, sementara dua pamannya yang lain memilih untuk mengundurkan diri. Raja Zhou merasa terganggu hingga akhirnya Daji (妲己), selir kesayangannya, berkata bahwa dirinya ingin membuktikan kebenaran pepatah kuno China bahwa “jantung seorang pria yang baik memiliki tujuh lubang” (七巧玲瓏心). Bigan kemudian dieksekusi dengan jalan jantungnya dikeluarkan (比干剖心).[4]
Karena Bigan tidak mementingkan diri sendiri serta adil dan jujur, ia tidak memiliki jantung untuk dirinya sendiri. Masyarakat memujanya sebagai Dewa Harta Sipil.[4] Legenda mengatakan bahwa para pebisnis yang diberkahi Bigan hanyalah yang melakukan bisnis jujur. Ia digambarkan berpakaian pejabat sipil China kuno lengkap dengan topi khas dan jubah bermotif, membawa batangan emas atau perak di kakinya serta tongkat ruyi (tongkat berbentuk seperti huruf “S” yang biasanya terbuat dari giok)[6] yang dapat mengubah batu dan besi menjadi emas.

  1. Dewa harta empat penjuru tambahan

Dewa Harta Tenggara (東南路财神), Dewa Judi – Han Xin Ye

 

  •     Dewa Judi – Han Xin Ye (大赌神 – 韩信爷
  •  Han Xin adalah seorang jenderal perang yang melayani Liu Bang (kekaisaran Han) dimana beliau sangat cerdas dan pintar, selama menjabat jendral senantiasa dia menemukan cara untuk membangkitkan semangat para prajuritnya, salah satu tak tik yang dia jalankan adalah dengan berjudi, seluruh pasukan baik pemimpin maupun prajurit biasa dia ajak berjudi dengan tak tik ini dia banyak memenangkan pertempuran, dengan keberanian dan kepintarannya Liu Bang menjadi takut dengan Han xin, sehingga suatu hari Liu Bang mendengar bahwa Han Xin akan memberontak dan di tangkaplah beliau dan di hukum pengal, sebelum di hukum pengal, han xin mengutarakan 3 niatnya, dimana Han xin juga menemukan permainan dadu 4 dalam mangkuk pada saat itu, orang-orang senantiasa menyebut Han Xin sebagai God of Gambler

 

Dewa Harta Barat Daya (西南路财神), Dewa Keberuntungan – Liu Hai

 

  •     Dewa Keberuntungan – Liu Hai (偏财神 – 刘海). Ia seringkali ditampilkan mengendarai seekor katak emas berkaki tiga.

Liu Hai (刘海) adalah seorang Perdana Menteri  yang melayani Raja Yan, Liu ShouGuang (劉守光), selama Lima Dinasti diCina. Begitu beliau mengenal tao segera dia meninggalkan posisinya dan banyak belajar membantu manusia. Liu Haimelakukan banyak perbuatan baik untuk membantu umat manusia yang termasukmengalahkan setan jahat.
Suatu saat beliau mendengar ada roh jahat dengan penampakan katak emas yang sering meneror umat manusia, segera Liu Hai bertempur dengan katak emas tersebut, setelah beberapa lamanya akhirnya liu hai berhasil memotong salah satu kaki belakang katak emas tersebut, katak emas tersebut akhirnya mengaku kalah dan bersedia menjadi pengawal sekaligus tungangan Liu Hai, katak emas tersebut memiliki kebiasaan ditempat yang gelap dan dingin sering kali dia menemukan harta emas maupun perak dan memakannya dan membawakan harta tersebut kemudian memuntahkannya pada liu hai.
Harta itu digunakan untuk membantu Liu Hai untuk membantu orang miskin dan menyebarkan kekayaan untuk menguntungkan orang-orang.

   Dewa Harta Timur Laut (東北路财神), Dewa Emas – Shen Wan Shan

 

  •     Dewa Emas – Shen Wan Shan (金财神 – 沈万山)

Shen Wan Shan ((沈 万 山) adalah orangyang mulia selama Dinasti Yuan dan pada awal Dinasti Ming. Menurut legenda, iaadalah seorang nelayan di kedua sisi Qindan Sungai Huai, suatu hari dia bertemu dengan seorang yang mebawa sekantong katak yang akan di rebus dan dimasak, Shen Wan Shan membelinya dan melepaskan nya di kolam samping rumahnya, pada malam harinya Shen Wan Shan terbangun mendengar suara katak-katak tersebut berbunyi sangat nyaring, dan mendapati katak-katak tersebut melingkar menghadap sebuah panci, kemudian Shen wan Shan membawa panci tersebut ke rumah, kejadian aneh ketika terjatuh sebuah koin emas maka dengan cepat panci tersebut terisi koin emas sampai penuh, begitu pula apabila di jatuhkan koin perak, hal ini di gunakan Shen Wan Shan membantu umat manusia.

Dewa Harta Barat Laut (西北路财神), Dewa Harta Sipil – Dao Zhu Gong

 

  •     Dewa Harta Sipil – Dao Zhu Gong (文财神 – 陶朱公)

Fan Li (范蠡) adalah seorang penasihat Cina kuno di negara bagian Yue di Periode Musim Semi dan Gugur. Dia telah ke negara Wu sebagai sandera bersama Goujian dari Yue. Tiga tahun kemudianmereka kembali dan dia membantu Goujian untuk melakukan reformasi. Akhirnya Yue mampu mengalahkan negara Wu. Setelah kemenangan ia mengundurkan diri dan berganti nama dirinya TaoZhu Gong (Cina: 陶朱公; pinyin: tao Zhugong; harfiah “Tuhan Tao Zhu”). Ia menjadi pengusaha sukses di tahun-tahun berikutnya dan terkenal sebagai orang kaya.
dan memiliki toko obat terkenal, beliau juga membukukan sejumlah prinsip yang sampai sekarang dipegang oleh orang China, yaitu Dua belas aturan emas dan Dua belas emas perlindungan.

Dua Belas Aturan Emas adalah sebagai berikut:

Prinsip bisnis ke 1: Kemampuan mengenali orang: mengetahui karakter orang akan menjamin kestabilan keuangan anda. (neng shi ren: zhi ren shan e, zhang mu fu).

Prinsip bisnis ke 2: Kemampuan menangani orang, memperlakukan orang dengan rasa hormat akan membuat anda diterima dikalangan luas dan membuat bisnis berkembang. (neng jie na: li wen xiang dai, jiao guan zhe zhong).

Prinsip bisnis ke 3: Kemampuan berfokus pada bisnis: mengabaikan yang lama untuk mendapatkan yang baru merupakan kutukan dalam bisnis.

Prinsip bisnis ke 4: Kemampuan mengorganisasikan: bila produk ditampilkan dengan baik, ia akan menarik perhatian banyak orang. (neng zheng dun: huo wu zheng qi, duo ren xin mu).

Prinsip bisnis ke 5: Kemampuan bersikap tangkas dan fleksibel: keengganan dan keraguan akan menghasilkan kesia-siaan. (neng min jie: you yi bu jue, zhong gui wu cheng).

Prinsip bisnis ke 6: Kemampuan menagih pembayaran: rajin dan rewel akan memberikan keuntungan bagi perusahaan (neng tao zhang: qin jin bu dai, qu tao zi duo).

Prinsip bisnis ke 7: Kemampuan memperkerjakan dan menempatkan sumber daya manusia: memilih orang yang tepat untuk pembayaran yang tepat akan menjamin bahwa orang tersebut dapat dipercaya dan diandalkan. (neng yong ren: yin cai qi shi, ren shi you lai).

Prinsip bisnis ke 8: Kemampuan berbicara: kepandaian berbicara bisa mendatangkan keberuntungan dan memberikan pencerahan kepada orang lain. (neng bian lun: zuo cai you dao, chan fa yu meng).

Prinsip bisnis ke 9: Kemampuan unggul dalam pembelian: dalam pembelian, menawar sampai setiap ons-nya tidak akan mengurangi modal anda. (neng ban huo: zhi huo bu ke, shi ben bian jing).

Prinsip bisnis ke 10: Kemampuan mendiagnosa dan menyambar peluang serta melawan ancaman: Praktik bisnis yang bijaksana membutuhkan kemampuan untuk menjual dan menyimpan pada waktu yang tepat. (neng zhi ji: shou zhu zui zhi, ke cheng ming zhe).

Prinsip bisnis ke 11: Kemampuan memulai dan menjadi contoh: persahabatan dan kepercayaan akan muncul secara alami jika disiplin dan standar yang tinggi ditegakkan. (neng chang lu: gong xing yi lu: qin gan zhi sheng).

Prinsip bisnis ke 12: Kemampuan melihat jauh ke depan: kapan harus mencari lebih banyak, mengencangkan dan mengendurkan, tergantung pada situasi. (neng yuan shu: duo gua kuan jin, zhuo zhong er xing).

Dua Belas Emas Perlindungan adalah:

  1. Jangan pelit. Jangan bingung efisiensi dengan tidak manusiawi.
  2. Jangan plin-plan. Percaya dirilah dalam mengejar peluang. Waktu adalah emas (esensi).
  3. Jangan pamer. Tidak menyebar uang untuk membuat kesan.
  4. Jangan tidak jujur. Kebenaran adalah dasar untuk bisnis. Tanpa itu seseorang akan terluka.
  5. Jangan lamban dalam penagihan utang. Tanpa koleksi, likuiditas dipengaruhi.
  6. Jangan memootong harga secara sewenang-wenang (seenaknya). Ini hanya akan memicu perang harga di mana setiap orang akan kehilangan.
  7. Jangan terjebak pada naluri orang kebanyakan (ikut-ikutan). Pastikan peluang adalah bagian nyata dan bukan suatu hal yang menggila secara tidak terencana (bubble).
  8. Jangan bekerja melawan siklus bisnis. Ketika terjadi penurunan harga, mereka akan meningkat lagi dan  juga sebaliknya.
  9. Jangan tidak bersemangat dan lengah. Selalu mengikuti berbagai hal dan membuat kemajuan. Pelajari dan periksa hal-hal baru secara objektif.
  10. Jangan berlebihan mengambil kredit. Kredit bukanlah alat kita untuk menghabiskan uang secara tidak terkontrol.
  11. Jangan menyimpan terlalu sedikit (jaga cadangan dana yang kuat). Ketika usaha / bisnis melambat, yang memiliki uang dapat memperluas usaha sementara yang lain bangkrut (menutup usaha).
  12. Jangan membabi buta mendukung suatu produk. Pastikan vensor / supplier Anda tetap mengikuti prosedur operasi standar yang ada.
  1. Cai Shen dalam Buddhisme

 

Budai Maitreya (milek fo), rupangnya sangat terkenal dan mudah dikenali. Ia selalu digambarkan tertawa, mengenakan jubah biksu yang tidak dapat menutupi perutnya yang buncit, terkadang dikelilingi anak-anak, atau membawa kepingan uang, atau sebuah kantong yang dapat mengeluarkan segala benda yang ia inginkan. Ia merupakan salah satu biksu Buddhis di China yang dipercaya merupakan reinkarnasi dari Bodhisatwa Maitreya.

Ji Gong (Chi Kung) adalah seorang arhat dalam agama Buddha. Sebagian masyarakat awam memujanya sebagai dewa yang memberikan nomor lotre.[9]

Shan Cai Tong Zi adalah salah satu pengiring Kuan Im yang seringkali digambarkan sebagai seorang bocah pria. Dikisahkan bahwa banyak harta pusaka yang muncul di kediaman orangtuanya pada saat ia dilahirkan. Namanya dalam bahasa Sanskerta (Sudhana) dan mandarin (San Chai) memiliki arti menghargai harta. Itulah sebabnya, masyarakat memujanya sebagai dewa harta.[10][11]

Jambhala adalah sekelompok Dharmapala yang dipuja penganut Buddhisme Tibet. Terdapat lima Jambhala, yaitu Jambhala Kuning, Merah, Biru, Hijau, dan Putih. Jambhala yang paling terkenal di China adalah Jambhala Kuning atau Huang Cai Shen. Karena Ganesa dianggap sebagai Jambhala Merah, ia juga dipuja sebagai Dewa Rezeki.

 

Cai Shen yang lain

Tu Di Gong/ Fu De Zheng Shen atau dewa bumi adalah Cai Shen yang paling dikenal oleh semua orang. Semasa hidupnya, ia merupakan pemimpin yang adil, menciptakan lumbung padi, dan mengatur irigasi. Beliau sering membantu umat manusia, baik semasa menjadi pejabat maupun setelah meninggal, Oleh sebab itu, masyarakat mempercayainya sebagai pelindung tempat usaha maupun hasil bumi bagi para pengusaha dan petani. Itulah sebabnya Tu Di Gong juga dipuja sebagai dewa rezeki.

*****

 

Sumber Bpk. Leman Cristanto, http://chinese-gods-of-wealth.blogspot.com, http://id.wikipedia.org/wiki/Cai_Shen,