Month: July 2016

Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya

Posted on

Membakar Kertas Sembahyang

Banyak orang berpendapat bahwa membakar kertas emas (kertas sembahyang) sebagai persembahan kepada Buddha, Bodhisattva, Dewa pelindung, para makhluk suci, maupun roh leluhur adalah suatu hal yang sama sekali tidak berguna dan harus segera dihentikan.

Namun, coba pikirkan hal berikut ini. Bila membakar kertas sembahyang adalah suatu hal yang semu dan tak ada gunanya, bukankah memelihara dan memuja patung Buddha merupakan hal yang semu? Sebenarnya, kedua hal diatas (membakar kertas maupun memuja patung Buddha) merupakan contoh dari metode “menggunakan yang semu untuk melatih yang asli”. Contoh ketiga adalah tubuh fisik kita sendiri. Tubuh fisik kita ini terbuat dari 4 unsur (air, api, udara, tanah) dan panca skandha. Untuk mencapai penerangan sempurna, kita (orang-orang yang membina diri) menggunakan tubuh fisik (“diri kita yang semu”) untuk menemukan “diri kita yang asli” (ke Buddhaan). Kita melatih diri kita terus menerus sehingga sifat Buddha diri kita menampakkan diri. Penekanannya adalah pada “membina diri”.

Sewaktu kita melakukan puja bakti kepada para Buddha dan Bodhisattva, sepertinya kita memuja objek-objek seperti kayu, batu, tembaga atau porselin. Namun, dengan bervisualisasi bahwa para Buddha dan Bodhisattva sebenarnya menampakkan diri mereka di hadapan kita dalam bentuk yang terukir pada patung- patung tersebut, kita sebenarnya melatih diri dengan metode “menggunakan yang palsu untuk melatih yang asli”.

Ketika kita membakar kertas sembahyang sebagai suatu persembahan kepada para Buddha, Bodhisattva, Dewa Pelindung, dan makhluk suci lainnya, kita mengharapkan mereka menampakkan diri pribadi mereka untuk menerima persembahan kita itu. Bila hal yang sama dilakukan sebagai persembahan kepada roh-roh leluhur, kita mendoakan mereka supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesehatan. Sekali lagi, ini merupakan metode “menggunakan yang palsu untuk melatih yang asli”…………..

selengkapnya : http://ift.tt/2aTfBN3 via Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya